Jurnal Metodologi Penelitian Kualitatif Aisah07
HUBUNGAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DENGAN KEPEDULIAN SOSIAL SISWA KELAS XI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 1 DARMA DESA CIPASUNG KECAMATAN DARMA KABUPATEN KUNINGAN
Aisah Zihan Falela: Aisahjihan@gmail.com
Angga Ahmad Firdausi : ahamadfirdausi0604@gmail.com
Bella Desinta:BELLADESINTA0110@GMAIL.COM
Abstrak
Pendidikan Agama Islam memiliki peranan yang sangat penting dalam pembentukan sikap dan kepribadian siswa. Pendidikan Agama Islam mampu menanamkan pemahaman dan membimbing siswa agar memiliki sikap jujur, disiplin, memiliki akhlak yang baik dan bermanfaat bagi sesama serta memiliki jiwa sosial yang tinggi kepada sesama. Jika pemahaman siswa tentang Pendidikan Agama Islam baik, maka sikap, akhlak dan perilakunya dapat dikatakan baik pula. Seperti halnya Pendidikan Agama Islam yang diterapkan di SMA Negeri 1 DARMA Desa Cipasung Kecamatan DARMA Kabupaten Kuningan dan pengaruhnya terhadap pembentukan akhlak dan kepedulian sosial, serta seberapa besar pengaruh pendidikan Agama yang di ajarkan guru terhadap kepedulian sosial pada diri siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh guru tentang pendidikan Agama yang diajarkan kepada peserta didik terhadap kepekaan sosial dalam masyarakat yang ditempatinya . Manfaat penelitian ini adalah sebagai bahan masukan bagi lembaga sekolah dalam meningkatkan atau mengupayakan dan membina peserta didik terhadap kesosialisasiannya dalam bermasyarakat.
Abstract
Islamic religious education has a very important role in shaping students' attitudes and personalities. Islamic Religious Education is able to instill understanding and guide students to have an honest, disciplined attitude, have good morals and benefit others and have a high social spirit towards others. If students' understanding of Islamic Religious Education is good, then their attitudes, morals and behavior can be said to be good too. As with the Islamic Religious Education implemented in SMA Negeri 1 DARMA, Cipasung Village, DARMA District, Kuningan Regency and its influence on the formation of morals and social care, as well as how much influence religious education taught by teachers on social care for students. This study aims to determine how much influence teachers have about religious education taught to students on social sensitivity in the society they occupy. The benefits of this research are as input for school institutions in improving or seeking and fostering students to socialize in society.
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Islam diturunkan sebagai rahmat untuk seluruh alam. Untuk itu, maka diutuslah Rasulallah SAW, untuk memperbaiki manusia melaui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu Orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. Firman Allah SWT. dalam Q.S Al-Mujadalah (58) : 11 yang Artinya : Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Departemen Agama RI, 2008 : 48) Ayat di atas menerangkan tentang etika (sopan santun) bila dalam suatu majelis dan seruan agar peduli terhadap orang lain dengan cara memberi tempat kepada orang yang baru datang di dalam majelis, serta kedudukan orang-orang beriman dan orang-orang berilmu pengetahuan, ayat di atas merupakan perintah dari Allah SWT untuk memberikan kelapangan di dalam majelis.
Ahmad D. Marimba; mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiannya yang utama (insan kamil). (Juga Ahmad Tafsir; mendefinisikan pendidikan Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.
Pendidikkan adalah suatu proses bimbingan atau pengarahan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan dan perubahan baik jasmani maupun rohani, sehingga peserta didik mampu menuju kepada terbentuknya kepribadian yang baik. Agama islam adalah sistem keagamaan yang luas dan kompleks, yang tidak hanya dibentuk oleh berbagai dalil metafisik dan tuntutan etika, melainkan juga oleh kondisi-kondisi pemerintah modern.
Pendidikan Agama Islam adalah upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama islam, bertakwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Quran dan Hadis. Melalui proses bimbingan pembelajaran tersebut. Pendidik juga mengajarkan kepada peserta didik untuk bersikap toleran yakni menghormati penganut Agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antara umat dalam masyarakat hingga terwujudnya Kesatuan dan persatuan bangsa.
Sedangkan menurut Zakia Drajat, Pendidikan Agama Islam adalah suatu upaya atau usaha yang dilakukan oleh pendidik untuk membina dan mengasuh peserta didik supaya dapat memahami dan menerapkan ajaran islam secara menyeluruh,. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan Serta menjadikan islam sebagai pedoman hidup.
Pendidikan Agama Islam sangat penting ditanamkan kepada setiap anak didik sejak dini. Secara umum pendidikan berarti suatu proses transformasi yang dilakukan seseorang atau masyarakat kegenerasi berikunya, serta dilaksanakan secara sengaja, teratur dan dapat diukur, atau diketahui hasilnya, baik itu dari pendidikan formal atau informal sehingga mereka dapat tumbuh secara intelektual, berakhlak mulia, serta memiliki sikap hidup yang baik sehingga mampu menjalin silaturahmi, saling menghormati, menghargai, gemar membantu orang lain, dan ikut merasakan kesusahan yang dialami oleh orang lain.Pendidikan merupakan suatu usaha untuk melengkapi dan membimbing individu maupun kelompok, agar menjalankan tugas dan panggilan hidupnya secara efektif. Pendidikan bertugas untuk membangun kuwalitas manusia yang seutuhnya, sehingga memiliki kepribadian dan mampu menyelaraskan antara ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK) dan keimanan ketakwaan (IMTAK).
Pendidikan tidak akan lepas dari kegiatan belajar, hasil belajar yang diharapkan adalah prestasi belajar yang baik. Setiap orang pasti akan mendambakan prestasi belajar yang tinggi, bai siswa orang tua maupun guru. Untuk mencapai prestasi belajar yang optimal tentunya tidak lepas dari berbagai kondisi yang membuat siswa dapat belajar dengan efektif dan dapat mengembangkan daya eksplorasinya.
Kurikulum pendidikan di indonesia saat ini memang cenderung lebih memperhatikan prestasi akademis anak, tanpa memberikan perhatian khusus pada pengembangan kepribadian anak padahal dengan teknologi yang semakin maju, anak-anak dan remaja dewasa ini justru menjadi lebih individualistis. Bagaimana mengembangkan rasa kepedulian sosial, kalau teknologi yang seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kecerdasan hingga mencapai prestasi belajar yang baik justru disalah gunakan hingga membuat anak hanya terpaku pada alat seperti computer, telephon seluler, televisi dan media masa yang kebanyakan menayangkan hal-hal negative seperti : sinetron yang menceritakan tawuran antar pelajar,bngebuli teman sekelasnya, cerita pelajar yang egois, hingga tayangan kekerasan dan pola hidupbyang jauh dari pendidikan agama islam hingga memberikan dampak negatif, akhirnya anak- anak sekolah banyak yang kurang memiliki kepedulian sosial.
ruang lingkup akhlak meliputi tiga bidang yaitu akhlak kepada Allah SWT, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak terhadap alam lingkungan, dengan demikian akhlak mencakup jasmani dan rohani, lahir dan batin, dunia dan akhirat, bersifat universal berelaku sepanjang zaman dan mencakup hubungan dengan Allah, manusia, dan lingkungan (Departemen Agama RI, 2004 : 78). Akhirnya peran serta efektivitas Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah sebagai landasan bagi pengembangan spiritual keagamaan dipertanyakan, dengan demikian Pendidikan Agama Islam (PAI) diharapkan mampu membentuk generasi yang memiliki kepribadian dan ketaqwaan. Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Menengah Atas (SMA) memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan kepribadian siswa yang memiliki kepedulian sosial, apalagi dalambpelaksanaannya masih terdapat kelemahan yang mendorong perlu dilakukannya penyempurnaan terus menerus.
B. Kerangka Pemikiran
Pada hakikatnya pendidikan merupakan kebutuhan utama bagi manusia, yang dimulai sejak manusia lahir sampai meninggal dunia, manusia tidak akan menjadi manusia yang berkepribadian tanpa melalui pendidikan, maka dalam islam menuntut ilmu itu hukum nya wajib. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW Artinya: Dari Anas r.a. berkata : Rasulullah SAW bersabda : mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim, karena sesungguhnya semua makhluk sampai bintang-bintang yang ada di laut memohonkan ampun untuk orang yang yang menuntut ilmu (H.R. Ibnu Abdurrahman).
Hadis di atas menekankan akan kewajiban kita menuntut ilmu yaitu dimulai dari kita lahir sampai meninggal dunia karena segala sesuatu itu harus dilakukan berdasarkan ilmunya. Di dalam dunia pendidikan hadis di atas bisa menjadi acuan agar setiap anak didik bersemangat untuk menuntut ilmu hingga mampu mencapai prestasi belajar yang baik dan mampu mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Pendidikan agama Islam sangat penting ditanamkan kepada setiap anak didik sejak dini. Secara umum pendidikan berarti suatu proses transformasi yang dilakukan seseorang atau masyarakat kegenerasi berikunya, serta dilaksanakan secara sengaja, teratur dan dapat diukur, atau diketahui hasilnya, baik itu dari pendidikan formal atau informal sehinggb mereka dapat tumbuh secara intelektual, berakhlak mulia, serta memiliki sikap hidup yang baik sehingga mampu menjalin silaturahmi, saling menghormati, saling menghargai, gemar membantu orang lain, dan ikut merasakan kesusahan yang di alami oleh orang lain.
Sebagaimana diketahui bahwa inti ajaran Islam meliputi : masalah keimanan (aqidah), masalah keislaman (syariah) dan masalah akhlak (Zuhairini dan Abdul Ghofur, 2004 : 48). Kemudian ruang lingkup akhlak meliputi tiga bidang yaitu akhlak kepada Allah SWT, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak terhadap alam lingkungan, dengan demikian akhlak mencakup jasmani dan rohani, lahir, dan batin, dunia dan akhirat, bersifat universal berlaku sepanjang zaman dan mencakup hubungan dengan Allah, manusia, dan lingkungan. Hal inibdikarenakan manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya.
Kepedulian Sosial adalah perasaan bertanggung jawab atas kesulitan yang dihadapi oleh orang lain di mana seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Kepedulian Sosial dalam kehidupan bermasyarakat lebih kental diartikan sebagai perilaku baik seseorang terhadap orang lain di sekitarnya. Kepedulian sosial dimulai dari kemauan memberi bukan menerima. Bagaimana ajaran Nabi Muhammad untuk mengasihi yang kecil dan Menghormati yang besar, orang-orang kelompok besar hendaknya mengasihi dan menyayangi orang-orang kelompok kecil, sebaliknya orang kecil agar mampu menempatkan diri, menghormati, dan memberikan hak kelompok besar.
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Kepedulian Sosial (Prososial)
Kepedulian Sosial adalah perasaan bertanggung jawab atas kesulitan yang dihadapi oleh orang lain di mana seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Kepedulian Sosial dalam kehidupan bermasyarakat lebih kental diartikan sebagai perilaku baik seseorang terhadap orang lain di sekitarnya. Kepedulian sosial dimulai dari kemauan memberi bukan menerima. Bagaimana ajaran Nabi Muhammad untuk mengasihi yang kecil dan menghormati yang besar, orang-orang kelompok besar hendaknya mengasihi dan menyayangi orang-orang kelompok kecil, sebaliknya orang kecil agar mampu menempatkan diri, menghormati, dan memberikan hak kelompok besar.
Pendidikan merupakan kata yang sudah sangat umum. Karena itu, boleh dikatakan bahwa setiap orang mengenal istilah pendidikan. Begitu juga Pendidikan Agama Islam (PAI). Masyarakat awam mempersepsikan pendidikan itu identik dengan sekolah,pemberian pelajaran, melatih anak dan sebagainya. Sebagian masyarakat lainnya memiliki persepsi bahwa pendidikan itu menyangkut berbagai aspek yang sangat luastermasuk semua pengalaman yang diperoleh anak dalam pembetukan dan pematangan pribadinya, baik yang dilakukan oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri.Sedangkan Pendidikan Agama Islam merupakanpendidikan yang didasarkan pada nilai- nilai Islam dan berisikan ajaran Islam.
Desmita (2012) mengungkap beberapa pendapat para ahli tentang tingkah laku prososial. Menurut Eisenberg (1998) mendefinisikan tingkah laku prososial sebagai voluntary behavior intended do benefit another. Menurut Baron Byrne (1991) tingkah laku prososial adalah tingkah laku menolong orang lain. Sementara itu Sears, Dkk (1992). mendefinisikan tingkah laku prososial sebagai tingkah laku yang menguntungkan orang lain. Sehingga menurut Sears tingkah laku terseebut mencakup kategori yang lebih luas meliputi segala tindakan yang dilakukan atau direncakan untuk menolong orang lain tanpa mempedulikan motivasi penolong.
Hunbungan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam dengan Kepedulian Sosial Siswa
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, prestasi adalah hasil yang telah dicapai (setelah melakukan atau mengerjakan suatu hal). Prestasi dapat diartikan sebagai hasil yang telah diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang dilakukan.
Prestasi merupakan suatu hasil dari kegiatan yang telah dilakukan atau dikerjakan, baik secara individu maupun secara kelompok. Prestasi belajar adalah pernyataan khusus tentang apa yang akan dilakukan dan dapat dilakukan oleh siswa dan, sebagai hasil kegiatan belajar, yang biasanya berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap (knowledge, skill or otitude).
Prestasi belajar siswa adalah suatu pernyataan mengenai tingkat keberhasilan siswa, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan oleh sekolah, dalam suatu periode tertentu (semester atau tahun ajaran). Tujuan pembelajaran dapat berupa penguasaan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap akademik. Pencapaian tujuan pembelajaran sering diukur dengan skor tes/ulangan/ujian standar atau buatan guru, dan tugas-tugas lain termasuk PR (Pekerjaan rumah) untuk mata pelajaran tertentu.
Pada hakikatnya pendidikan merupakan kebutuhan utama bagi manusia, yang dimulai sejak manusia lahir sampai meninggal dunia, manusia tidak akan menjadi manusia yang berkepribadian tanpa melalui pendidikan, maka dalam islam menuntut ilmu itu hukumnya wajib. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW Artinya : mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan.
Sebagaimana di negara kita (Indonesia) masalah pendidikan diatur dalam undang- undang nomor 20 tahun 2003 pasal 10 (UU. SPN No. 20 Tahun 2003 pasal 10) yaitu : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar, pendidikan dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat, bangsa, dan Negara. Sementara pendidikan agama Islam adalah suatu usaha yang sistematis dan pragmatis dalam membimbing anak didik yang beragama Islam dengan cara yang sedemikian rupa, sehingga ajaran-ajaran Islam itu benar-benar dapat menjiwai, menjadi bagian yang integral dalam pribadinya, dimana ajaran-ajaran Islam itu benar-benar diyakini kebenarannya, menjadi pedoman dalam hidupnya, menjadi pengontrol terhadap perbuatan, pemikiran dan sikap mentalnya.
Proses pendidikan agama Islam yang dilalui dan dialami oleh siswa di sekolah dimulai dari tahapan kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap ajaran dan nilai-nilai yag terkandung dalam ajaran Islam, untuk selanjutnya menuju ke tahapan afeksi, yakni terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam diri siswa, dalam arti menghayati dan menyakininya. Tahapan afeksi ini terkait erat dengan kognisi, dalam arti penghayatan dan keyakinan siswa akan kokoh jika dilandasi oleh pengetahuan dan pemahamannya terhadap ajaran dan nilai-nilai agama Islam. Melalui tahapan afeksi tersebut diharapkan dapat tumbuh motivasi dalam diri siswa dan tergerak untuk mengamalkan dan mentaati ajaran Islam (tahapan psikomotorik) yang telah diinternalisasikan dalam dirinya. Dengan demikian, akan terbentuk manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa pelaksanaan pendidikan agama sebagai suatu mata pelajaran di sekolah bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama, melainkan dapat mengarahkan peserta didik untuk menjadi manusia yang mempunyai kualitas keagamaan yang kuat, sehingga dapat membentuk sikap dan kepribadian peserta didik.
Komentar
Posting Komentar